Minggu, 29 April 2018

Isi Kertas Usang

Sumber: Unsplash.com


Sudah 20 menit aku begini. Hanya diam. Duduk di pojokan, di tempat yang dalam seminggu mungkin empat atau lima kali aku singgahi. Yang berbeda adalah, kali ini dengan pikiran dan perasaan yang agak lebih serius.

Aku mengizinkan semesta menertawakanku yang sedang bodoh ini. Yak! dipersilakan. Entah kenapa, manusia ini merasa pikirannya kacau sekali. Lagi-lagi, aku hanya bisa mematung sambil memandangi benda yang baru aku temukan beberapa waktu lalu.


Bagi mereka yang otaknya beres, pasti tidak mau singgah barang sebentar ke tempat yang sudah menjadi masa lalunya. Eh, tapi kalau yang suka kilas balik atas rasa di masa lalu, apakah masih dikategorikan sebagai orang berotak beres?
Eh itu sih hatinya yang sedang tidak beres, ya? Oke, pengecualian untuk yang satu ini.


Baiklah, sebut saja aku si kurang kerjaan. Yang sudah 20 menit menghabiskan waktu santainya dengan duduk di kursi yang dulu menjadi tempat terbaik untuk menuangkan perasaanya.
Ah entahlah, aku sendiri pun bingung. Nyatanya memang sekarang aku di sini. Menopang dagu dengan tangan kanan yang bertumpu di atas meja kayu hadiah dari Pakde, seraya memandang bodoh satu lembar kertas usang tak berbentuk yang sudah dicoreti pemiliknya.

Terakhir kali aku ke sini… sekitar dua tahun lalu. Persis menempati meja dan kursi ini dengan perasaan yang sama rumitnya. Masih sama juga, aku datang sendiri. Sebab kalau ramai-ramai, nanti dikira sedang rapat PPKI, dong? Huhu.

Menurut pengalamanku, meditasi terbaik memang harus sendiri dan sepi. Biar apa? Biar lebih khidmat seperti upacara bendera tapi sambil makan nasi padang. Syaiq, leh uga tapi kagak nyambung!
Maafken sayeu Ipin.


Kertas usang masih aku genggam. Kutatap nanar sambil mengingat kejadian demi kejadian di masa itu. Saat kobaran semangat masih kuat menyala, selain itu juga rasanya menggebu sekali, membuat jantungku berdegup kencang 7x lipat, napasku juga ikut beradu, seperti lihat chat dari mantan gebetan yang ujug-ujug tanya kabar. Atuhlah kesal tidak sih,  ingin lupa, eh malah dihubungi lagi? Manusia kurang ajar!

Tangan kananku sibuk mengetukkan kertas ke meja. Yang bertanya ini kertas apa, ini hanya kertas biasa. Kertas putih yang tak lagi bersih. Sisi-sisinya sudah tak lagi lancip seperti lipatan pada umumnya. Banyak bekas lipatan asal seperti lipatan persegi dan entah apalagi, juga terlihat banyak cap jari berwarna coklat mirip telapak tangan manusia yang kotor, seperti sering dibuka oleh pemiliknya.

Berpuluh kali sudah kubuka dan lipat kembali kertas ini. Terdapat coretan asal yang tidak jelas, juga tertera satu kalimat tanya yang sangat sakral. Kalimat tanya sederhana. Tapi bisa membuatku membisu dua jam lamanya. Otak dan hatiku bertengkar karenanya. Kira-kira, siapa yang akan menang? Kita lihat nanti.

Aku terdiam. Membaca satu kali lagi kalimat itu. Maaf, aku flashback lagi. Napas ini tiba-tiba seperti menderu, beradu seperti dikejar waktu. Perasaan dag dig dug kembali tumbuh, seperti tak sengaja bertemu kakak tingkat lalu dia memberikan senyuman terbaiknya padamu. Kamu melihatnya, tapi tak berani balas, sebab takut senyum itu bukan buat kamu, kalau udah salah kan bahaya, ye gak? Akhirnya kamu malah jalan dengan nunduk, sebab lagi cari recehan buat bayar parkir dan takut nyungsep pas turun tangga. Hehe. Gadhul bashor tcuy~

Kertas ini ditemukan di rak buku kayu, di ruang tidur anak perempuan bernama aku. Kertas inilah biang keladinya. Yang sejak tadi membuatku duduk dan betah bengong lama sambil berpikir tapi malah pusing sendiri.

Pertemuan dengan kertas ini bisa dibilang tidak sengaja. Kebetulan beberapa jam lalu sedang membereskan beberapa berkas lawas, memilahnya dan memisahkan mana yang penting dan harus dikasih ke bank sampah. Ya lumayan lah, uangnya untuk tambahan lebaran.  Daripada dibakar kan? Hahahak.
Awalnya tidak berniat untuk membongkar tiap berkasnya satu per satu. Capek. Rak buku kalau sedang berantakan, berkas fotokopi tugas kuliah bisa bertumpuk disana, bersatu dengan catatan kecil lainnya yang tidak kalah banyaknya. Musingi banget deh. Ya begitulah siklus kehidupan. Malas bisa hadir kapan saja. Hem, tidak patut untuk dicontoh ya kengkawan.

Tapi, ya namanya juga manusia. Yang awalnya cuma niat untuk beresin lalu lanjut tidur, eh malah memeriksa dan membaca satu per satu kertas-kertas yang ia temukan. Jangan heran. Aku yakin, kalau sudah menyangkut tulisan di masa lalu, rasanya sayang betul kalau tidak dibaca ulang, yakan? Eaa kurang kerjaan!

Ya, tanganku meraih kertas usang mencurigakan. Karena ku pikir ini awalnya adalah catatan hutang pulsa ke sohibku. Ya gimana nggak, wong posisi kertasnya terselip diantara dua novel favoritku, ku pikir  itu penting banget. Huhu. Saat membukanya, aku tiba-tiba tersentuh dan merasakan pertahananku meluruh dan ya….. jatuh.

Kudapati kalimat sakti. Benar-benar membuatku sibuk kilas balik ke beberapa tahun yang lalu. Sudahlah otaknya tidak beres, hatinya sekarang ikut-ikutan. Lemah benar!

Apakah aku pernah menuliskan kata-kata ini? Yeh, kok malah bertanya-tanya pada disi sendiri -_-). Mollayo, aku lupa. Ya hal kecil yang sepele memang kadang sering terlupakan. Perhatian kecil ke orang aja bisa dilupain, apalagi yang sepele macam begini, ya kan? Ga nyambung mbak! Oke, santai.

Tapi benar, kertas usang ini milikku. Soalnya tulisannya jelek. Hehe. Doodle ala ala ini juga apa banget, lah. Inisial nama seseorang yang…. Oke, lupakan.


Tapi, kenapa aku menulis kalimat sakral ini?

Aku ingat, kalimat sakti ini kutulis karena saat itu sudah lulus sekolah. Keadaan otakku tumpul sekali tak terasah, karena cerita hidup selepas sekolah beberapa bulan itu terkesan b aja ih, gak menarik untuk dikulik!
Ya benar, tidak ada yang bisa aku ceritakan di kertas dan media manapun. Sedih sekali. Aku merasa tiada berguna. Beberapa bulan hidup bagai bukan diri sendiri.
Sesuatu yang dulu aku sukai, saat itu hilang begitu saja. Menguap, entah ke mana. Ingin ku teriaaak~~



PLUK!



Saat sedang asik kilas balik, aku disadarkan oleh kotoran cicak yang mendarat secara cantik di punggung tangan kananku. Kacau. Ngajak gulat kamu, cak?
Dasar cicak tidak sekolah!
Buang air sembarangan!

Mau tidak mau aku harus ke dapur. Mencuci punggung tangan bernoda putih dominan hitam ini dengan sabun. Oke, kini tiba-tiba aku haus. Berpikir ternyata menguras tenaga sekali, sob!

Tempat yang dua tahun lalu kujadikan pojok nulis, yang beberapa waktu lalu juga kujadikan tempat meditasi alias menggalau, kini aku menempatinya dengan perasaan dari dunia nyata. Yea, tengs cicak. Berkat pupmu yang eksotis itu, aku jadi sadar, bahwa aku harus sadar!

Apakah memang ini sudah saatnya? Kurasa iya. Sudah terlalu lama aku berdiam. Kepalaku tak kupaksa berpikir dan tak jarang kosa kata yang dulu tertampung perlahan hilang. Salahku, iya aku tahu.

Mungkin ini adalah cara Allah memberikanku petunjuk sekaligus menegurku. Melalui kertas usang tulisan tangan sendiri, yang ditulis saat sedang galau kala itu, dan ditemukan kembali dengan perasaan galau yang sama. Ah, ternyata masa lalu tidak setidakberguna itu, sob! Alhamdulillah, petunjuk-Mu nyata ya Allah :’)

Kurasa inilah jawaban yang sejak dua tahun kebelakang kucari.

Huf…
Ku buang napas yang kutahan selama 7 detik lalu. Pertanyaan ini berat sekali. Membuatku memutar ulang memori-memori itu. Sedari tadi kuulang terus satu kata dengan makna sama. Bukannya apa, hanya saja, isi kepalaku hanya mencerna itu dan aku ingin kamu membacanya. Hahah. Sepusing itu untuk menentukan kalimat. Kan, menulis itu tidak gampang! Ah, kesal!

Bukannya aku tidak suka dengan kilas balik itu, yang aku benci adalah  saat tahu kenyataan sebenarnya; aku sudah jauh berbeda. Tulisanku punah. Otakku tak terasah, tumpul, kayaknya sebentar lagi mati.


Ya, ternyata hanya dengan sebuah kertas, ia mampu membuatku melintasi waktu yang cukup panjang. Memasuki banyak ruang demi mencari jawaban, lalu terbesit pertanyaan, apakah sesulit itu untuk konsisten dan kata yang mewakilkan diri ini untuk terus menulis?


Kertas usang berisi pertanyaan yang mampu membuatku menulis tulisan ini.
Kertas usang yang ternyata adalah kunci dari tulisan ini.
Kertas usang berisi pertanyaan,



“Bagaimana kalau kita memulainya lagi?

Iya, nulis lagi. Bisa kan, Nur?”




Depok, Maret 2018

Yang tidak menyangka menemukanmu

Nur A P

2 komentar:

  1. Udah nunggu-nunggu tulisan apa, menebak-nebak apakah ini berakhir sedih atau kelam, ternyata .... :( Hahaha. Tapi baguslah isi kertas itu bisa memotivasimu~

    Saya kayaknya udah nggak pernah menyelipkan kertas-kertas yang ditulisi sesuatu di buku gitu. Kalau menyisipkan uang masih cukup sering. Ceritanya sekalian menabung. Ya, semacam menemukan uang di kantong celana gitulah. :)

    Saya sering merenung lama kalau lagi baca ulang tulisan di bloknot (bisa dianggap seperti buku diary). Pertama, karena tulisan tangan saya jelek dan bikin mikir, ini kata apa yang nggak kebaca? Kedua, apa betul saya pernah ada dalam kejadian yang dituliskan ini? Ketiga, wah ternyata masih ada ide-ide cerpen yang belum ditulis. Dan seterusnya~

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca sampai bagian akhir. ^^
Jika ada yang perlu dikomentari, maka komentarilah. Sebab punya perasaan yang dipendam itu memusingkan. Hehe.

NUR AGUSTININGSIH © | THEME BY RUMAH ES